Showing posts with label indonesia. Show all posts
Showing posts with label indonesia. Show all posts

Tuesday, December 7, 2010

5:32 AM

Indonesia unveils the prototype of satellite launch vehicle in IDAM 2010

Indonesia's space agency, LAPAN, unveils its first prototype of satellite launch vehicle (SLV) or RPS (Roket Pembawa Satelit) in Indo-Defence, Indo Aerospace, and Indo Marine 2010 exhibition (IDAM 2010). The exhibition arranged by The ministry of defense is part of Indonesia's effort to explore outer space for the benefit of human kind, especially, Indonesians. The exhibition occurred in 10-13 November 2010 in JIEXPO Kemayoran, Jakarta.

Wednesday, June 23, 2010

3:36 PM

LAPAN Sukses Uji Terbangkan Muatan Satelit LAPAN-ORARI

Tiga roket RX-200 berhasil diuji terbangkan oleh LAPAN, Minggu (20/06). Ketiga buah roket tersebut merupakan rangkaian uji coba muatan satelit LAPAN-ORARI.

Roket pertama diluncurkan pada pukul 06.00 WIB. Menurut Deputi Teknologi Dirgantara Dr. Ing. Soewarto Hardhienata mengatakan uji roket pertama adalah untuk menguji karakteristik roket.

“Sedang roket kedua dan ketiga menguji muatan Satelit LAPAN-ORARI”, terangnya.
Uji terbang yang berlangsung di Stasiun Peluncuran Roket LAPAN Pameungpeuk Garut ini, dihadiri oleh Ketua Umum ORARI Sutiyoso dan Kabalitbang Kementerian Pertahanan Pos Hutabarat dan Sekretaris Balitbang Kementerian Pertahanan Eddy Priyono. Dalam kesempatan tersebut, Bang Yos bersama dengan Pak Warto menekan tombol firing roket ketiga.

“Keberhasilan ini (uji terbang) sangat penting dalam usaha menjamin kelancaran komunikasi bencana”, tegas Bang Yos saat jumpa pers yang digelar seusai peluncuran roket kedua.

Monday, November 30, 2009

3:06 PM

NASA proposes robotic rocket-plane to explore Mars

NASA is proposing to build a robotic rocket-plane to explore Mars from the air, and has advertised for help building it.

The Aerial Regional-scale Environmental Surveyor (ARES), around the size of a small plane, will be folded into a rocket and launched to the red planet. It would be the first aircraft ever to fly over another world.

After entering the atmosphere in a capsule, the aircraft would deploy parachutes and unfold its wings and tail, before firing its rocket motor and flying around a mile above the surface of Mars for around an hour and a quarter.

The idea is that an atmospheric craft like ARES can explore far more ground than existing rovers, like Spirit and Phoenix, but in much more detail than an orbital spacecraft. It is hoped that it could cover as much as 600 square miles in its short flight.

While the idea was tabled several years ago, with suggestions it could even have launched by 2007, no progress has so far been made.

However, now NASA has issued a “teaming opportunity”, offering private companies and designers the chance to help create the craft.

The team behind the concept hopes that it will be accepted as one of the space agency’s “Discovery” missions, aimed at swiftly and (relatively) inexpensively exploring other worlds in our solar system.

Other recent proposals that been put forward for Discovery include a nuclear-powered robot sailing-boat to plough the seas of Saturn’s moon Titan.

Similarly, a proposal by scientists at the California Institute of Technology has suggested that armies of flying, sailing and driving robots will one day explore other planets.

Sunday, November 29, 2009

8:39 AM

Horee...Jakarta Punya Stasiun Pemantau Kualitas Udara

Gubernur Fauzi Bowo meresmikan Stasiun Pemantau Kualitas Udara Tepi Jalan di kawasan Bundaran Hotel Indonesia pada Minggu (29/11) pagi ini. "Ini adalah alat bantu ukur yang canggih untuk bercermin diri," kata Foke, begitu biasa gubernur di sapa.

Maksudnya, jika stasiun ini menampilkan data yang menunjukkan kualitas udara di sekitar Bundaran Hotel Indonesia buruk maka ada yang salah dari kebijakan pemerintah. Tapi juga menunjukkan perilaku warga Jakarta yang tidak konstruktif. "Kita lihat ke depan, mari kita jadikan tempat ini untuk menunjukkan tanggungjawab kita, bukan hanya menunut hak tapi memberi kontribusi juga," ujar Foke.

Lebih lanjut, ia memaparkan bahwa alat ini adalah bukti komitmen pemerintah dan warga Jakarta untuk mewujudkan kualitas udara yang bersih. Jakarta sendiri mematok target penurunan emisi sampai 26 persen.

Stasiun pemantau kualitas udara ini terletak di sebelah Kantor Kepolisian Pos Thamrin. Saat ini hanya ada di Jakarta dan satu-satunya di Indonesia. Biaya yang dihabiskan mencapai Rp 5,5 miliar. "Rp. 5,5 miliar tidak ada artinya jika untuk kepentingann masyarakat. Mari kita rencanakan untuk dapat perbanyak alat ini," pungkas Foke.

Di Kawasan Bundaran HI sendiri banyak sekali warga Jakarta mengisi hari bebas kendaraan bermotor yang berlaku dari Jalan Sudirman sampai Jalan Thamrin. Ada yang lari-lari, bersepeda, senam atau sekadar jalan-jalan dengan anggota keluarga.

Thursday, November 26, 2009

3:36 AM

STAINU-Nias: Bersama membangun Nias

Nias adalah kepulauan Indonesia yang mengalami kemajuan yang sangat pesat khususnya dalam bidang pariwisata. Nias diperkirakan akan menjadi Bali Ke-2 Indonesia dalam menyumbang pendapatan negara.

Sekarang ini, anda tidak pernah ke Sumatera Utara kalau belum menginjakkan kaki di Nias. Keindahan alamnya tidak saja mengundang perhatian wisatawan lokal, tapi juga wisatawan mancanegara.



Selain wisata, bidang pendidikan juga berkembang pesat, terbukti dengan berdirinya banyak universitas yang sama-sama membangun Nias dari segi pendidikan. Salah satu perguruan tinggi tersebut adalah STAINU-Nias.

Lihat di sini

Sunday, November 22, 2009

5:14 AM

Lapan: Talent Mapping

Sebanyak 75 pejabat struktural Lapan eselon II, III, dan IV mengikuti tes potensi bakat (talent mapping assestment) di kantor pusat Lapan, Rawamangun.

Sekretaris Utama Lapan, Dr. Bambang Koesumanto, M.Sc pada sambutan pembukaan tes mengemukakan bahwa tujuan talent mapping adalah untuk mendapatkan potret diri. Menurut Bambang, tes tersebut bermanfaat untuk mengetahui bakat diri, apakah seseorang berbakat menjadi pemimpin, pekerja, atau peneliti. ”Dengan tes ini, kita dapat gambaran bakat seseorang, sehingga tidak akan salah dalam menilai,” Bambang menambahkan.

Rama Royani, alumnus fisika ITB, penemu talent mapping dan pemilik Lead Pro Management Consultant mendorong peserta untuk mewujudkan potensi diri dengan mengenal bakat-bakat yang dimiliki. ”Dengan memahami diri mungkin merupakan langkah yang akan merevolusi hidup Anda,” Rama menambahkan.

Menurut Rama, saat ini manusia pandai menemukan kekurangan orang lain yang masih hidup dan pandai menemukan kelebihan sesorang yang baru meninggal. ”Mengungkapkan potensi kelemahan orang lain yang masih hidup hanya akan membuatnya demotivasi, menutup komunikasi, mengurangi produktivitas, dan membuat suasana negatif,” kata Rama. Untuk itu, ia menambahkan, manusia perlu mengubah paradigma. Cara mengubahnya yaitu berusaha memperbaiki kelemahan, berfokus pada kekuatan, dan mensiasati kelemahan. ”Dengan berusaha menemukan kekuatan orang lain yang masih hidup akan membuatnya termotivasi, meningkatkan citra dirinya, membuka komunikasi, meningkatkan produktivitas, dan membuat suasana positif,” Rama menjelaskan.
Tes tersebut terdiri atas 34 tema bakat uang tersusun dalam program berbasis komputer. Hasil talent mapping berupa peta bakat dalam bentuk gambar dan konsep mind mapping sederhana.

Wednesday, November 11, 2009

2:49 PM

Space tourism market study

Friday, November 6, 2009

10:38 AM

Equatorial Atmosphere Radar (EAR) Koto Tabang – West Sumatra - Indonesia

Equatorial convective activity around Indonesia is the most powerful in the world. That activates global atmospheric circulation, thus affecting global climate and weather. Valuable data have been collected under a joint Japan-Indonesia collaborative project in which Shimane University participates by installing various remote sensing instruments to measure equatorial convective activities in West Sumatra-Indonesia. Such data are also useful in gaining added insight into the characteristics of rainfall in West Sumatra.

More
10:36 AM

Koto Tabang Equator Atmospheric Radar

The Radar Atmosfer Khatulistiwa Koto Tabang is a radar facility located at Koto Tabang, West Sumatra. It commenced operations in 2001. This facility is used for atmospheric dynamics research, especially areas concerning global climate change, such as El Niño and La Niña climate anomalies.

Wednesday, October 28, 2009

2:35 AM

UFO Indonesia: Warga GBI Bandung Geger Lihat Benda Asing di Langit

Warga Blok G Komplek Griya Bandung Indah (GBI) Bojongsoang, Kabupaten Bandung digegerkan dengan penampakan benda asing di langit sekitar pukul 20.30 WIB, Selasa (27/10/2009).

Eka Widiana (27), kepada detikbandung menuturkan benda asing yang dilihat warga di langit mengeluarkan cahaya putih seperti lampu neon.

"Kalau dari sini keliatannya jauh di atas langit," ujarnya.

Eka mengaku penampakan benda asing di langit itu cukup lama, sekitar 30 menit. "Wah lama, setengah jam lebih. Saya juga berhasil merekamnya pakai kamera video di HP, tapi cuma bentar 30 detik," lanjutnya.

Sementara itu warga lainnya, Dela Febrianti (26), mengaku saat kejadian, dia tengah menonton televisi.

"Trus saya dengar ribut-ribut di luar. Ada yang teriak UFO-UFO," tuturnya.

Penasaran, Dela dan suaminya pun ikut keluar rumah. Mereka melihat puluhan warga sudah berkerumun di depan rumah masing-masing, sambil menatap ke langit.

"Pas saya lihat ke langit, saya lihat benda bercahaya," ujarnya yang mengaku melihat benda itu hanya kebagian 5 menit.

Sunday, October 11, 2009

2:08 PM

LAPAN akan melaksanakan lomba Cansat antar Perguruan Tinggi di Indonesia, dimana mahasiswa mendisain dan membuat sendiri

Cansat adalah istilah dari satelit mini berukuran sebesar kaleng minuman. Program Cansat dimunculkan oleh banyak konsorsium internasional tentang kedirgantaraan dengan tujuan menumbukan minat iptek kedirgantaraan di dunia perguruan tinggi yang dilaksanakan melalui workshop atau lomba antar mahasiswa. Cansat dioperasikan untuk misi tertentu dan diluncurkan melalui roket kecil atau dijatuhkan dari balon udara dengan parasut.

LAPAN akan melaksanakan lomba Cansat antar Perguruan Tinggi di Indonesia, dimana mahasiswa mendisain dan membuat sendiri Cansat-nya, sedang peluncur roketnya akan disediakan LAPAN. Guna mendukung program tersebut telah dilakukan uji coba Cansat yang dibuat oleh Bidang Bangtek Inderaja LAPAN dan diluncurkan dengan Roket Uji Muatan (RUM) LAPAN di Jogya pada tahun 2007 dan di Pameungpeuk-Garut 2 Juli 2008.

Cansat di LAPAN memiliki misi inderaja dan merupakan spin off dari pengembangan payload imager satelit inderaja LAPAN, dimana Bidang Bangtek Inderaja telah menkaji sistem kamera satelit sejak tahun 2005 yaitu sistem CCD, GPS, IMU, kamera kontrol, pemaketan data, mounting kamera, pemrograman OBDH dan embeded computer serta sistem penerima data dan pengolahan data citranya.

Cansat tersebut selain diluncurkan dengan roket, juga terus dikembangkan untuk bisa dibawa dengan wahana pesawat terbang tanpa awak untuk keperluan misi pemetaan atau pemantauan keamanan.

Sunday, October 4, 2009

9:17 AM

LABORATORIUM AERODINAMIKA LAPAN

Sejak tahun 1984 LAPAN telah membangun terowongan angin Subsonik, dilanjutkan dengan pembangunan terowongan angin Supersonik, Transonik. Terowongan angin Subsonik, Transonik, Supersonik, Numerik atau CFD (Computational Fluid Dynamics) merupakan fasilitas uji yang ada di Unit Uji Aerodinamika. Terowongan angin merupakan sarana utama yang digunakan dalam perancangan aerodinamika bagi pengembangan suatu wahana.

Dimana dengan melakukan pengujian terowongan angin dapat diketahui karakteristik aerodinamik dari model uji secara terperinci. Disamping menggunakan pengujian terowongan angin, Laboratorium Aerodinamika LAPAN juga melakukan pengujian dengan simulasi CFD dimana hasil pengujian dapat divisualisasikan dengan jelas.

Sehingga memudahkan dalam hal pembacaan karakteristik aerodinamiknya. Dengan memiliki tiga buah terowongan angin dan simulasi CFD, maka Laboratorium Aerodinamika LAPAN dapat dikatakan telah memenuhi kriteria kelengkapan sebuah laboratorium aerodinamika yang modern.

More

Monday, September 28, 2009

9:59 PM

Anak Bangsa di Balik Peluncuran Roket Prestisius di Bumi Indonesia

SEPINTAS jika melihat namanya, Pusat Teknologi Wahana Dirgantara (Pustekwagan), tentu orang akan membayangkan fasilitas menuju tempat penelitian dan pengolahan roket itu akan memadai. Namun, kenyataannya, pusat riset di Desa Mekarsari, Rumpin, Kabupaten Bogor, itu lokasinya sangat terpencil.

Tidak hanya itu, jalan menuju pusat teknologi tersebut juga sudah rusak parah. Kondisi itu terlihat ketika memasuki Kecamatan Rumpin. Hampir seluruh badan jalan berlubang dan aspalnya terkelupas. Maklum, ruas jalan tersebut digunakan untuk lalu lintas truk pengangkut material bangunan.

Di tengah lingkungan seperti itulah, para ilmuwan dari lembaga yang berada di bawah Lapan, termasuk Dr Rika Andiarti, kepala Bidang Kendali Lapan, bekerja mengembangkan roket temuannya, RPX 420, yang rencananya diluncurkan dua bulan mendatang.

"Saat ini Lapan memang sedang memiliki program besar. Yakni, meluncurkan satelit dari bumi Indonesia," kata Rika Andiarti kepada IndoPos (Jawa Pos Group) dengan bersemangat.

Wanita berjilbab itu lalu menjelaskan tahap-tahap pembuatan roket RPX 420 yang menurutnya merupakan roket terbesar yang pernah dibuat Lapan. "Roket itu diperkirakan memiliki berat 1 ton," kata wanita berkacamata yang hari itu mengenakan jilbab warna hitam tersebut.

Sembari menjelaskan, doktor lulusan Ecole Centrale de Nantes, Prancis, itu menunjukkan buku catatan yang berisi gambar tentang rangkaian roket dan hitung-hitungan daya jangkaunya. Untuk menerbangkan satelit, kata dia, dibutuhkan roket yang mampu menjangkau ketinggian 300 kilometer dari permukaan bumi. Sebab, pada ketinggian itulah satelit bisa mengorbit.

"Yang sedang kami kembangkan adalah roket RX 320 dan RX 420. Gabungan roket itu kami beri nama RPX 420," kata Rika.

Meski belum bisa dilakukan di negeri sendiri, wanita kelahiran Sukabumi, Jawa Barat, 30 Januari 1967, itu mengakui bahwa pemerintah Indonesia sudah sering meluncurkan satelit. Tahun lalu, misalnya, pemerintah bekerja sama dengan Jerman meluncurkan satelit dengan nama Lapan-Tubsat. Yakni, kerja sama antara Lapan dengan Technische Universitat Berlin (Universitas Teknik Berlin).

Satelit Lapan-Tubsat itu berbentuk kotak berberat 57 kilogram dengan dimensi 45 x 45 x 27 sentimeter. Satelit itu bertugas memantau kabakaran hutan, banjir, dan gunung berapi di wilayah Indonesia.

Ibu dua anak itu menjelaskan, RX 320 memiliki diameter 32 sentimeter, sedangkan RX 420 memiliki diameter 42 sentimeter. Roket yang sudah diujiterbangkan adalah RX 320. Saat itu dua roket RX 320 diujiterbangkan di Garut, Jawa Barat. Hasilnya, sangat memuaskan alias sesuai yang diinginkan. Sedangkan RX 420 baru dilakukan uji statis di lingkungan Pustekwagan. Uji statis juga menunjukkan hasil positif. Salah satu indikatornya adalah motor roket tidak meledak.

Sementara itu, rencana uji terbang roket pada Mei nanti terdiri atas gabungan RX 320 dan RX 420. Komposisinya, tiga rangkaian RX 420 dan satu RX 320. Skenarionya, tiga RX 420 berada di bagian bawah dan RX 320 yang di atas. Roket itu akan membawa satelit berukuran kecil atau nanosatelit. Berat satelit tak lebih dari 5 kilogram.

Dari perhitungannya, jika dilontarkan dengan sudut elevasi 70 derajat, RX 420 akan memiliki daya jangkau 105 kilometer dengan ketinggian 50 kilometer. Jika sudut elevasinya 60 derajat, daya jangkaunya adalah 95 kilometer dengan ketinggian 45 kilometer.

Bagaimana kalau diluncurkan dengan posisi tegak lurus? "Roket tak pernah diterbangkan dengan sudut elevasi 90 derajat. Pasti akan jatuh kembali di tempat awal roket diterbangkan," katanya lantas tersenyum.

Rangkaian tiga roket RX 420 dan RX 320 diharapkan mampu menjangkau ketinggian 300 kilometer. Tak hanya mencapai target ketinggian yang ditetapkan, Lapan juga berharap roket tersebut memiliki kecepatan 7,7 kilometer per detik. Dengan posisi tersebut, satelit akan mampu bekerja.

Sudah cukup? Walaupun jangkauan sudah sesuai keinginan, pihaknya juga sedang mengkaji kemampuan satelit ketika berada di angkasa. Untuk itu, pihaknya akan memberi sistem pemindai elektronik dan beberapa sensor pada roket. Yakni, sensor percepatan, GPS, dan lain-lain. "Alat-alat itu akan membaca ketinggian dan perilaku roket saat terbang," katanya.

Dengan sistem seperti itu, lanjut Rika, roket tak hanya sampai ke orbit, tapi juga mampu mengirim pesan-pesan yang diinginkan ke bumi.

Rika mengakui, kemampuannya membuat roket murni didapat dari mempelajari berbagai literatur. Sangat tidak mungkin belajar membuat roket dari negara lain. Sebab, sekitar 34 negara yang menguasai teknologi ini di forum Missile Technology Control Regime (MTCR) cenderung mempertahankan eksklusivitas mereka. Teknologi roket antariksa sangat mudah diubah menjadi rudal balistik.

"Saya belajarnya, ya text book. Kalau saya belajar di luar negeri, pasti nggak boleh lagi balik ke Indonesia," katanya lantas tertawa.

Selama menjadi ilmuwan di Pustekwagan, Rika sudah menghasilkan ratusan roket. Mulai yang berdiameter kecil hingga yang besar.

Berapa dana yang dibutuhkan untuk membuat RPX 420? Menurut warga Vila Serpong, Tangerang itu, biayanya bergantung pada besar kecilnya roket. "Kalau untuk RPX 420, berapa dananya saya belum tahu. Banyak komponen yang dihitung," katanya.

Seperti Rika Andiarti, Drs Sutrisno MSi juga ikut sibuk dengan para anggota pembuat roket lain di Lapan. Walaupun tampak lelah, pria berkacamata itu bersemangat menjelaskan proses pembuatan roket RPX 420. Kata dia, roket yang saat ini dikerjakan ilmuwan Pustekwagan itu adalah proyek besar. Dengan bobot sekitar 1 ton, itu roket terbesar yang pernah dibuat Lapan.

"Kebetulan kami baru selesai rapat penting membahas pengerjaan roket juga," kata Sutrisno dengan ramah.

Dalam proses pembuatan roket, jelasnya, setidaknya ada lima disiplin ilmu yang saling terkait. Yakni, bidang proporsi, propelan, struktur, kendali, dan pengujian. Bidang propelan yang dia geluti kebagian tugas membuat propelan dan insulansi sistem penyalaan.

Ayah dua anak itu mengaku harus menyiapkan sendiri propelan yang akan digunakan. Mulai proses awal, yakni mencampur adonan, hingga sudah menjadi propelan padat yang siap menerbangkan roket.

Dalam pengerjaan bahan bakar tersebut, Kepala Bidang Propelan Pustekwagan dibantu sedikitnya 36 pekerja. "Semua kita yang kerjakan. Mulai awal hingga akhir," katanya.

Untuk menerbangkan satu roket RX 420, kata dia, sedikitnya dibutuhkan 600 kilogram propelan padat. Bahan bakar seberat ratusan kilogram itu mampu menerbangkan satu roket RX 420 dengan panjang 3,7 meter. Perhitungannya, jika dilontarkan dengan sudut elevasi 70 derajat, roket punya daya jangkau 105 kilometer dengan ketinggian 50 kilometer.

Alumnus S-2 Materials Science Universitas Indonesia, Jakarta, itu menjelaskan, diperlukan lima komponen penting pada motor roket pengantar satelit. Yakni, tabung motor roket. Tabung itu biasanya terbuat dari aluminium atau steel. Komponen kedua adalah cap, tutup roket bagian atas. Selanjutnya nozzle yang menghasilkan gaya dorong dan sistem penahan panas atau insulansi. Terakhir komponen penyala yang ada pada bagian dalam motor roket.

Sejauh ini roket-roket yang dihasilkan Lapan digunakan untuk kepentingan sipil serta pengusahaan teknologi roket. Sebab, penggunaan roket diidentikan untuk dua hal. Yakni, untuk kepentingan sipil dan perang (pertahanan).

Bagaimana jika nanti roket buatan Lapan justru digunakan untuk berperang? Pria yang meraih gelar S-1 dari Jurusan Kimia Universitas Gajah Mada (UGM), Jogjakarta, itu menilai tidak terlalu mempermasalahkan. Asal berperang untuk kedamaian dan demi kepentingan negara.

"Roket itu kan seperti pisau, bergantung pada siapa yang memegang. Kalau ibu-ibu yang memegang, tentu akan digunakan untuk alat memasak," katanya lantas tertawa.

Sumber

Saturday, September 19, 2009

3:09 PM

Spaceport

A spaceport, astrodrome or cosmodrome (Russian: космодром) is a site for launching (or receiving) spacecraft, by analogy with seaport for ships or airport for aircraft. The word spaceport, and even more so cosmodrome, has traditionally been used for sites capable of launching spacecraft into orbit around Earth or on interplanetary trajectories. However, rocket launch sites for purely sub-orbital flights are sometimes called spaceports. In recent years new and proposed sites for suborbital human flights have commonly been named spaceports. Space stations are sometimes called spaceports, in particular if intended as a base for further journeys.

The term rocket launch site is used for any facility from which rockets are launched. It may contain one or more launch pads or suitable sites to mount a transportable launch pad. It is surrounded with large safety area named rocket range or missile range. The range includes the area over which launched rockets are expected to fly, and within which some components of the rockets may land. Tracking stations, vessels, and aircraft are often located in the range to assess the progress of the launches.

Major spaceports often include more than one launch complex, which can be well-separated (for safety reasons) rocket launch sites adapted for different types of launch vehicles. For launch vehicles with liquid propellant, suitable storage facilities and, in some cases, production facilities are necessary. On-site processing facilities for solid propellants are also common.

A spaceport can also include runways for takeoff and landing of spacecraft equipped with wings.

About

Nias Bakal Menjadi Salah Satu Pilihan Peluncuran Roket Pembawa Satelit Lapan Lanjut

More

Recent