Sunday, December 9, 2018

11:24 AM

TDAS dan SOYUS: Teknologi Canggih Karya Anak Bangsa Indonesia

ilustrasi
Pengembangan perangkat lunak SOYUS (awalnya merupakan singkatan Sistem Olah Yudha untuk Seskoau) dan TDAS (Transmission Data Air Situation) adalah produk paling canggih dan bernuansa teknologi tinggi (hi-tech) yang dibangun menggunakan teknologi kelas perusahaan berbasis teknologi .Net buatan Microsoft serta memanfaatkan sistem DirectX secara ekstensif untuk keperluan simulasi grafik berbasis tiga dimensi.

Pada sistem solusi decision technology TDAS yang sudah digunakan oleh Komando Pertahanan Udara, IAO mampu untuk menggabungkan infrastruktur sistem radar militer dan sipil yang tersebar di seluruh Indonesia, serta menghasilkannya menjadi tampilan wilayah udara Indonesia secara terintegrasi.

Artinya, sistem aplikasi berbasis decision technology ini mampu memberikan situasi sebenarnya wilayah udara nasional Indonesia dan mendeteksi terjadinya penyusupan udara oleh pesawat-pesawat asing. Bahkan, sistem ini pun mampu menyimulasi jalur pacu sebuah pesawat terbang yang berada di wilayah Indonesia sehingga pada situasi khusus, seperti kecelakaan dan sejenisnya, mampu ditampilkan ulang untuk kepentingan evaluasi dan simulasi.

Aplikasi canggih lainnya buatan IAO adalah SOYUS yang dirancang untuk keperluan Sekolah Staf dan Komando TNI AU (Seskoau) sebagai sebuah sistem war gaming yang terintegrasi dan waktu sesungguhnya (real time), memungkinkan para perwira TNI AU melakukan perencanaan dan komando pada tingkat strategis, taktis, dan operasional.

Aplikasi SOYUS memiliki sistem manajemen data perlengkapan angkatan udara, kemampuan supervisi, kemampuan perencanaan operasi, serta bersifat dinamis melakukan berbagai kalkulasi rumit sebuah serangan udara.

Dikembangkan selama dua tahun dan menghabiskan biaya sekitar Rp 1 miliar, SOYUS adalah sistem tercanggih yang bisa jadi menjadi sebuah permainan simulasi online game yang setara dengan Counter Strike ataupun Ragnarok.

Aplikasi SOYUS ini juga bisa melibatkan berbagai kekuatan militer (laut, udara, dan darat) ke dalam sistem olah yudha ini, dan selama ini hanya dikembangkan oleh lima programmer. Kedua sistem ini, TDAS dan SOYUS, membuktikan bahwa anak bangsa Indonesia juga bisa mengembangkan sistem aplikasi dengan kualitas dunia yang perlu didukung sepenuhnya oleh siapa saja. (sumber)

Friday, May 26, 2017

11:30 AM

Sarmat Si Anak Setan: Misil Balistik Antarbenua Terbaru dari Rusia

Uji penembakan misil balistik antarbenua (intercontinental ballistic missile/ICBM) Sarmat, yang akan beroperasi pada awal 2020-an, telah berhasil dilaksanakan pada September lalu. Namun, karakter teknis dan taktis senjata ini masih ‘dirahasiakan’. Berikut adalah pemaparan infomasi yang berhasil kami himpun baik dari pengembang senjata ini maupun dari percakapan dengan para pakar militer.

Perlu dicatat, saat ini misil tersebut masih dalam proses pengembangan, dan saat mulai beroperasi, ia tentu sudah melalui sejumlah modifikasi dan perubahan.

Apa Itu Sarmat?

Sarmat adalah misil antarbenua berbahan bakar cair kelas berat dengan kode MS-28. Total bobotnya mencapai seratus ton dan berat lemparannya (throw weight) sepuluh ton. Misil ini akan bergabung dengan Pasukan Misil Strategis Rusia setelah 2020 dan akan menggantikan P-32M2 “Voievoda”, misil strategis paling tangguh dan dashyat di dunia (julukan NATO: SS-18 Satan), dengan bobot 211 ton dan throw weight 8,8 ton.

Yang akan membuat Sarmat berbeda dari pendahulunya tak hanya bobotnya yang lebih ringan, tapi juga jangkauan terbang. Jika ‘Satan’ mampu terbang pada jarak 11 ribu kilometer, Sarmat mampu menempuh jarak lebih dari 17 ribu kilometer. Para perancang bahkan merencanakan Sarmat dapat terbang ke menyasar target yang bahkan berada di Kutub Selatan, yang di sana tak ada siapa pun yang menantinya dan tak ada pagar antimisil yang dibangun.

Selain itu, Sarmat akan memiliki setidaknya 15 MIRV (multiple independently targetable reentry vehicle) atau muatan peluru kendali balistik yang berisi beberapa hulu ledak individual, bukan hanya 10 hulu ledak nuklir. Mereka akan ditempatkan sesuai prinsip ‘setumpuk anggur’, dan masing-masing memiliki kapasitas 150 – 300 kiloton, yang dapat dipisahkan dari ‘tumpukannya’ saat ia harus meninggalkan target seperti yang diprogram. Ia dapat terbang dengan kecepatan hipersonik (melebihi Mach 5), mengubah lintasannya sesuai dengan tingkat dan ketinggian sehingga tak bisa dicegat oleh sistem pertahanan misil mana pun, baik yang sudah ada saat ini maupun misil jarak jauh, termasuk yang bergantung pada elemen antariksa.

“Bagi Sarmat, tak penting apakah ada sistem pertahanan misil atau tidak. Ia tak akan menyadarinya.” (sumber)


Thursday, January 5, 2017

9:00 PM

Tantangan Meluncurkan 100 Satelit Sekali Jalan

ilustrasi
Para pemain industri dirgantara sedang mencari cara bagaimana meluncurkan 100 satelit dalam sekali peluncuran.

India dilaporkan akan memulai pelucuran 83 satelit dalam sekali peluncuran tahun depan.

Perusahaan-perusahaan swasta di AS juga dengan melakukan hal yang sama dengan meniru konsep bom kluster. (baca)


Tuesday, December 27, 2016

6:57 AM

Ketika Sukhoi Hampir Bangkrut

Perusahaan yang memproduksi Sukhoi hampir bangkrut paska Uni Soviet.

Kemudian Tiongkok memborong pesawat yang dianggap sebagai bail out yang sangat berjasa menhidupkan perusahaan.

Kemudian diikuti dengan pesanan India.



Wednesday, December 14, 2016

8:30 PM

Penampilan Nasyid dari Nias


Kontingen dari Nias mengikuti Festival Nasyid ke-20 di Sumut baru-baru ini.

Kontingen Medan menjadi juara umum dalam perhelatan tersebut.

Berikut videonya.




Wednesday, May 11, 2011

5:18 PM

China plans to build lunar research base


Under China's three-phase lunar probe plans for orbiting the moon, landing on the moon and returning back to Earth, China is scheduled to launch the Chang'e-3 and softly land it on the moon, where it will release a moon rover to explore the lunar surface, by 2013.

China will carry out an unmanned lunar landing around 2017 before making manned lunar landings and building research bases on the moon, said Ouyang Ziyuan, chief scientist of China's lunar probe program, in Shanghai on May 9.

Ouyang made the remarks during the opening ceremony of the 2011 IEEE International Conference on Robotics and Automation.

He said that the Chang'e-2 has operated safely for 200 days as of May 1. During the operation of the Chang'e-2 in space, four tiny cameras on the satellite recorded clear photographs, marking China's first-ever aerospace application of CMOS imaging technologies, first space surveillance engineering application, first photograph captured at the moment of igniting the 490N engine and first photograph of the Earth taken by a camera on an orbiting lunar orbiter.

However, is the ultimate mission of the Chang'e-2 to test soft-landing technologies for the Chang'e-3 or to test Earth reentry technologies for follow-up Chang'e series satellites after their lunar landings? Ouyang said that the ultimate mission of the Chang'e-3 Satellite has yet to be determined. Whatever mission is selected, the Chang'e-2 will test key technologies for follow-up tasks of Chang'e series satellites before completing its lunar trip.

For instance, the Chang'e-2 can either make a "pilot" soft-landing in order to test technologies for the Chang'e-3 or return to Earth orbit under ground control and simulate the return of future Chang'e series satellites to earth after 2013.

Ouyang said that the Chang'e-3 will be equipped with a 70-kilogram lander and a 120-kilogram moon rover. The satellite will weigh about 500 kilograms and will have a designed life of three months. As the intelligent robotic technology develops, the rover will be able to determine its own routes, climb slopes, avoid obstacles and pick a good spot to perform science experiments with a collection of sensors. Furthermore, it will even be capable of collecting samples from the moon and sending them back to Earth for further studies.

Ouyang said that China plans to send recoverable rovers and humans to the moon at appropriate times. In addition, China is also considering building a research base on the moon and exploring Mars and other parts of outer space. To achieve its goal, the country is building a new satellite launch center and is making great efforts to develop more advanced rocket engines.

About

Nias Bakal Menjadi Salah Satu Pilihan Peluncuran Roket Pembawa Satelit Lapan Lanjut

More

Recent

Newsletter